Ilmu, Pikiran, Kebenaran dan Teori
Oleh: Hana Nabila Putri
Di dalam Ilmu Logika dijelaskan keterkaitan antara ilmu, kebenaran
dan teori, ketiga itu mempunyai keterkaitannya masing-masing. Dimana ketika kita sudah memiliki ilmu
kita akan mengerti apakah arti sebuah kebenaran dan setelah itu kita akan
mengetahui suatu teori tertentu. Maka dari itu, mengenal dalam pengertian ilmu
sangatlah penting bagi kita, karna tak jarang ilmu disamakan dengan halnya
pengetahuan, padahal jelas kedua hal itu berbeda maknanya. Jika berbicara ilmu yang
perlu kita ketahui, bahwa semua ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua
pengetahuan adalah ilmu. Mengapa demikian? Berhubung pengetahuan lebih mengarah
kepada sesuatu dari hasil visualisasi indera terhadap sesuatu yang kita cermati
atau ketahui, dimana itu menghasilkan sebuah kenyataan hingga tidak ada keraguan
terhadapnya. Sedangkan ilmu adalah penjelasan lebih lanjut bukan sekedar apa
yang dituntut oleh pengetahuan. Itu artinya, ilmu mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi dari pengetahuan.
Ilmu berasal dari bahasa Latin yaitu
"Scientia" ini berasal dari bentuk kata kerja scire,
yaitu mempelajari/mengetahui. Ilmu banyak mengalami perluasan arti. Namun
umumnya ilmu diartikan dengan pengelompokan pengetahuan dari objek-objek yang
sejenis, lalu dibuat menjadi lebih sistematis menjadi kelompok-kelompok
tertentu. Sehingga melahirkan ilmu yang beraneka ragam dalam hal yang
diselidiknya, namun pada dasarnya sebuah ilmu bersamaan dalam: mencari hukum,
patokan-patokan dan rumusan-rumusan yang meliputi masing-masing bidangnya yang
mengendalikan seluruh masalah detail dan partikularnya. (Mundiri, 2012)
Dikutip dari buku Filsafat Ilmu, Tim
Dosen UGM, "Ilmu tidak hanya merupakan aktivitas tunggal saja, melainkan
suatu rangkaian aktivitas sehingga dengan demikian ini bersifat intelektual,
dan mengarah pada tujuan-tujuan tertentu.". Dan tujuan ini bertalian
dengan dengan apa yang telah dicirikan sebagai sebuah fungsi pengetahuan atau
kognitif dari ilmu. Dengan itu, ilmu memusatkan perhatian terkuat pada
pemahaman kaidah-kaidah ilmiah yang baru dan tidak diketahui sebelumnya atau
pada penyempurnaan keadaan pengetahuan mengenai kaidah-kaidah semacam itu
(Tondl, 1973). Maka ciri dasar ilmu adalah ujud aktivitas manusia dan hasil
aktivitasnya tersebut, merupakan sisi yang tidak terpisahkan dari ciri ketiga yang
dimiliki oleh ilmu, yaitu sebagai metode.
Kedudukan ilmu di dalam logika pun
mempunyai korelasi. Dimana sebuah ilmu seyogyanya sangat berhubungan dengan
kegiatan berpikir, bahkan dasar logika pun di sebut dengan ilmu logika yang
merupakan cabang dari filsafat. Maka dari itu, pikiran atau logika berperan
penting di dalam kedudukan ilmu, dimana pengetahuan kita tidak lain adalah
informasi proposisi-proposisi. Dalam aktivitas berpikir kita selalu membanding,
menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya. Maka,
penyelidikan mantiq dalam mencari kebenaran dalam pemikiran selalu berurusan
dengan struktur dan relasi proposisi. (Mundiri, 2012)
Ketika kita mulai mengetahui apa itu
hakikat ilmu, pasti kita akan mencari tahu juga apa itu kebenaran, apakah
kebenaran absolut itu tidak ada? Atau apakah kebenaran itu relatif siapa yang
membuatnya? Lalu apa itu kebenaran? Jika menurut Renรฉ Descrates kebenaran itu
adalah sesuatu yang jelas dan tidak terpilah-pilah "Clara et distincta".
Jika sesuatu itu sudah jelas dan tidak bisa lagi diragukan lagi maka itulah
kebenaran. Benar pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dan
kenyataan. Ukuran kebenaran adalah persesuaian atau tidak adanya pertentangan
dari awal hingga akhir. Pertentangan disini bukan hanya pertentangan yang
terdapat dalam kalimat pendek, seperti: Semua mahasiswa Ilmu Politik bersikap
kritis dan aktif, Adi adalah mahasiswa Ilmu Politik, maka ia pemalu dan pasif.
Namun ada juga dalam pertentangan di dalam pernyataan yang tidak dapat ditangkap
pengertiannya ataupun tidak menghadirkan sebuah maksud yang bulat. Seperti: Si
bisu itu juara satu lomba bernyanyi. (Mundiri, 2012)
Seperti yang ada di dalam buku
Filsafat Ilmu, Tim Dosen UGM. Kebenaran pengetahuan pertama-tama berkaitan
dengan kualitas pengetahuan, artinya adalah bahwa setiap pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang yang mengetahui suatu objek dilihat dari jenis
pengetahuan yang dibangunnya. Lalu kebenaran yang kedua, kebenaran ini
dikaitkan dengan sifat atau karakteristik cara seseorang membangun pengetahuan
tersebut. Seperti contoh: Ketika seseorang membuktikan kebenaran pengetahuan
dengan indera atau sense experience maka pada saat itu ia membuktikan
kebenarannya dengan menggunakan indera pula, begitu dengan yang lainnya, mereka
adalah orang yang mempunyai cara berbeda untuk memperoleh kebenarannyan. Lalu
kebenaran pengetahuan yang ketiga adalah keterkaitan dengan ketergantungan
terjadinya pengetahuan itu sendiri, bagaimana relasi atau hubungan antara
subjek dan objek manakah yang dominan untuk membangun pengetahuan itu, subjek
atau objek. Jika subjek lebih berperan di dalam sebuah pengetahuan maka
pengetahuan itu menjadi pengetahuan yang subjektif dan amat bergantung kepada
subjek yang ada, vice versa.
Selain itu menurut Mundiri, ada dua
cara berpikir untuk mendapatkan kebenaran, yaitu metode induksi dan metode
deduksi. Metode induksi adalah cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual atau bersifat khusus.
Cara bernalar ini mempunyai dua keuntungan: Pertama, kita dapat berpikir secara
ekonomis, karna cara ini dapat memudahkan kita bereksperimen, karna kita bisa
men-generalkan sesuatu yg umum dan tidak sekedar kasus yang memiliki dasar
pemikiran kita saja, semisal: semua kayu mempunyai serat yang berbeda-beda,
kita tidak perlu melihat satu persatu kayu yang ada, namun bisa dibuktikan
dengan hanya beberapa kayu. Cara kedua, deduktif. Sebaliknya dari induksi, metode deduktif lebih
mendahulukan pernyataan yang bersifat umum yang lalu memiliki kesimpulan yang
bersifat khusus. Contoh: Semua logam bila dipanaskan akan memuai. Tembaga
adalah logam. Jadi tembaga bila dipanaskan akan memuai.
Di dalam perkembangannya, kebenaran
sudah mulai dikembangkan sejak zaman Plato yang lalu terus dikembangkan oleh
filsuf lainnya. Teori tentang kebenaran yang khususnya telah terlembaga pun ada
8 macam, yaitu:
1. Teori Kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal dan paling tua yang berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek (Anckerman, 1965)
2. Teori kebenaran koherensi adalah suatu proposisi/makna pernyataan dari suatu pengetahuan akan bernilai benar apabila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu bernilai benar.
3. Teori Kebenaran Pragmatis yaitu suatu proposisi bernilai benar jika proposisi itu mempunyai konsekuensi praktis seperti yang terdapat secara inheren d alam pernyataan itu sendiri.
4. Teori Kebenaran Sintaksis yaitu apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti.
5. Teori Kebenaran Sematis yaitu suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna, apakah proposisinya merupakan pangkal tumpu yang mempunyai pengacu (referent) yang jelas. Maka dari itu teori ini bertugas untuk menguak kesyahan proposisi dalam referensinya itu.
6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi yaitu teori yang menggambarkan bahwa sesuatu akan bernilai benar itu tergantung peran dan fungsi dari pernyataan itu.
7. Teori Kebenaran Logik yang berlebihan yaitu pada dasarnya setiap proposisi yang bersifat logik dengan menunjukkan bahwa proposisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka jika kita membuktikan kembali hal demikian itu merupakan logis berlebihan.
1. Teori Kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal dan paling tua yang berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek (Anckerman, 1965)
2. Teori kebenaran koherensi adalah suatu proposisi/makna pernyataan dari suatu pengetahuan akan bernilai benar apabila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu bernilai benar.
3. Teori Kebenaran Pragmatis yaitu suatu proposisi bernilai benar jika proposisi itu mempunyai konsekuensi praktis seperti yang terdapat secara inheren d alam pernyataan itu sendiri.
4. Teori Kebenaran Sintaksis yaitu apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti.
5. Teori Kebenaran Sematis yaitu suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna, apakah proposisinya merupakan pangkal tumpu yang mempunyai pengacu (referent) yang jelas. Maka dari itu teori ini bertugas untuk menguak kesyahan proposisi dalam referensinya itu.
6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi yaitu teori yang menggambarkan bahwa sesuatu akan bernilai benar itu tergantung peran dan fungsi dari pernyataan itu.
7. Teori Kebenaran Logik yang berlebihan yaitu pada dasarnya setiap proposisi yang bersifat logik dengan menunjukkan bahwa proposisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka jika kita membuktikan kembali hal demikian itu merupakan logis berlebihan.
Maka dari itu kesimpulannya adalah di
dalam ilmu logika ilmu dan kebenaran itu ada sangkut pautnya. Dimana ketika
kita akan mencari suatu kebenaran yang sesuai dengan kebenaran yang ilmiah maka
kita haruslah mempunyai bukan sekedar pengetahuan yang biasa saja namun
pengetahuan yang lebih terstruktur yaitu ilmu. Dan kerja logika pun sangat
penting untuk berjalannya proses menuju suatu ilmu. Proses bernalar yang benar
pun akan menghasilkan kebenaran berdasarkan ilmunya itu sendiri.
Sumber Yang Diringkas:
Mundiri. 2002. Logika. Jakarta: Rajawali Press
Maksum, Ali. 2016. Pengantar Filsafat : Dari Masa Klasik Hingga Postmodernism. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 2012. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar