Semu: Rindu
Knock knock knock.. "Apa ada orang di dalam?" Knock knock knock. "Hm.. Masih belum menyahut juga. Semu... Kau dimana? Ah diriku lupa tak memejamkan mata." Ku pejamkan mata sembari memanggil kawan delusi ku itu. "Ada apa kau panggil aku,Senjani?" "Tak apa,aku hanya sedang rindu." "Padaku?" "Tentu bukan,pada Tuanmu" "Ah.. Ku sangka pada diriku. Apa yang bisa ku perbuat untuk rindu mu itu?" "Tolong sampaikan,aku rindu." "Begitu saja?" "Lantas apa yang harus aku lakukan lagi? Sepertinya tak ada." "Pegang jemariku. Begini Senjani,kemarin Tuhan berbisik padaku. Ia berkata hal yang tak ku mengerti. Mungkin dirimu akan paham." "Apa yang ia kata?" Ia bercerita dengan serius: "Semu,kau di takdirkan untuk hadir ke dunia senantiasa supaya kau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memiliki logika. Dan kau menjadi serangan bagi orang orang yang sangat perasa. "Aku tidak mengerti Tuhan." "Kemari,sini duduk di sampingku. Begini,seumpanya kau akan hadir pada remaja yang hanya berlogika. Kau jangan berkecil hati ya saat mereka tak menjadikanmu temannya." "Mengapa? Aku kan sebenarnya ada." "Mereka hanya percaya dan peduli pada yang nyata,Semu. Yang seperti mu mereka abaikan." "Lantas apa dilakukan orang yang perasa itu?" "Mereka akan hanyut dalam imajinasi mereka. Menganggap kau itu benar-benar nyata,yang berdiam kokoh disampingmu. Ia mati dalam dunia nyata dan bangkit dalam kehidupan imajinya " "Apa salah orang itu?" "Tidak salah sama sekali. Namun Ku harap kau tidak terlalu dekat dengannya. Itu buruk baginya. Jika terhanyut terlalu dalam,ia sulit untuk menerima kenyataan pada dirinya,bahwa yang ia adakan itu hanyalah imajinasinya." "Bagaimana aku bersikap ketika aku terpanggil?" "Pilihlah kawan yang perasa namun masih menggunakan logika. Ia bisa menyeimbangkan hidupnya.".
"Begitu katanya,Senja. Ku harap kau bisa mengerti." "Aku mengerti. Terima kasih,Semu. Aku pamit dulu." "Lho.. Senja" "Terima kasih,Semu! Aku pulang."
Komentar
Posting Komentar