Aku Ingat Bahwa Aku Perempuan, ingat? Aku Lupa! Bahwa Aku Perempuan


Judul : Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan
Penulis : Ihsan Abdul Quddus
Penerbit : Pustaka Alvabet
Tahun terbit : April 2012
Jumlah halaman : 228 hlm




Suad, perempuan yang memiliki ambisi untuk memiliki segudang prestasi sejak kecil mulai mengalami gelojak batin dalam hidupnya. Diawali ketika ia menikah dengan Abdul Hamid selepas lulus dari perguruan tinggi. Pernikahan itu membuat Suad merasa terbatasi akan karir politiknya, dan harus berhadapan dengan sikap suaminya yang mulai jenuh akan kesibukan Suad. Di lihat beberapa pertemuan, Abdul Hamid tiba-tiba meninggalkan meja makan tanpa alasan yang jelas. Suad sudah tidak tahan dengan itu. Seperti konsep perkawinan yang ia ciptakan, ia merasa sudah gagal menyatukan jiwa dan raga antar sesamanya.
Setelah menikah beberapa tahun, dan memiliki anak bernama Faizah. Suad dan Abdul Hamid pun bercerai, tak lama setelah itu Abdul Hamid menikah lagi dengan Samirah. Bagi Suad, perceraiannya itu membuat dirinya kembali fokus kedalam karirnya sendiri. Ia kembali menjadi perempuan yang merdeka, yang tak dituntut menjadi seorang istri yang mempunyai beban ganda di pundaknya. Merintis dan terus merintis karirnya, mulai dari organisasi keperempuanan hingga duduk di  kursi DPR. Suad dihantui oleh rasa sepi di umur yang sudah tidak remaja lagi. Kemudian ia menikah dengan Dokter Kamal, teman bermain Suad saat masih kecil. Tapi sayang, pernikahan dengan Dokter Kamal pun mengalami kegagalan dan berujung perceraian. Dokter Kamal selalu ingin mendominasi perannya sebagai suami, karna pada saat itu Suadlah yang mendominasi rumah tangga mereka.
Novel yang lumayan memberi gairah dan kesadaran ini pun menjadi menarik, karna menggunakan sudut pandang ke satu, dimana Suad menampilkan dirinya sebagai perempuan arogan, yang merasa dirinya harus selalu mendominasi pada semua aspek. Sifat penuh ambisi ini terlihat dalam dirinya yang ingin selalu tampil dalam kesempatan perbincangan politik di media. Sejak di bangku kuliah, Suad sudah menjadi aktivis kampus. Ia sering mengeluarkan orasi yang selalu membakar semangat teman-temannya. Suad sangat aktif di dalam organisasi perempuan maupun politik. Meskipun ia bukan salah satu anggota dari partai politik manapun, Suad selalu mencari relasi untuk menunjang cita-citanya tercapai.
Ketika karir politik Suad terbilang sukses, tapi perihal rumah tangga ia belum menemukan seseorang yang memang mendukung karirnya, yang tidak merasa ingin mendominasi satu sama lain. Pada Faizah pun, ia menerapkan teori kepemilikan tertinggi atas diri Faizah, Suad  telah melupakan hak Faizah untuk menentukkan dirinya sendiri sebagaimana saat Suad remaja.
Terlepas dari itu, Suad adalah perempuan yang tegas akan prinsipnya sendiri, ia adalah sosok yang mematahkan dominasi gender di Mesir pada saat awal perkembangannya. Ia memiliki segudang prestasi hasil dari kegigihan dan ketegasan dirinya.
Novel ini begitu berapi-api, bagiku dalam sikap arogannya Suad itu terdapat prinsip hidup yang kuat. Jalan cerita yang cukup serius membuat ceritanya susah ditebak, selalu menimbulkan kejutan di setiap babnya. Akan tetapi, selain ceritanya yang menggugah kekurangannya apa ya? Ya mungkin jangan terlalu cepat menyimpulkan. Seimbangkan ambisimu dengan kebijaksanaan.
Aku akan menilai buku ini 9/10 ya. 

Komentar