Le Petit Prince


Judul Buku : Le Petit Prince (Pangeran Cilik) 
Pengarang : Antoine de Saint-Exupéry 
Alih Bahasa : Henri Chambert-Loir 
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan : VIII, 120 halaman




Sikap dewasa terkadang dikaitkan dengan rutinitas yang membosankan. Berujung dengan keutopisan belaka yang tiada akhirnya. Berbeda dengan sudut pandang saat menjadi seorang anak-anak, ia bisa menemukan apapun yang ia cari tanpa kepayahan yang luar biasa.
 "Hanya anak-anak yang tahu apa yang mereka cari," kata Pangeran Cilik
Perjalanan diawali dengan sesosok anak laki-laki berumur enam tahun yang berusaha membuat gambar seekor gajah di dalam perut ular, ternyata gambarnya itu gagal dimanifestasikan oleh orang-orang dewasa. Orang-orang dewasa memang terlalu serius dalam melihat sesuatu. Dan, semenjak itulah pria kecil tumbuh dengan ketakutan untuk melukis sesuatu, hingga setelah dewasa ia memutuskan untuk berhenti melukis dan belajar mengenai sesuatu yang lumrah bagi orang dewasa, seperti belajar ilmu bumi, ekonomi, menjadi pilot atau yang lainnya. Dan ia memutuskan untuk menjadi pilot. Suatu saat pemuda itupun memutuskan untuk pergi dengan menggunakan pesawat terbangnya, di tengah gurun pesawatnya mogok. Disitulah pemuda itu bertemu dengan sosok pangeran kecil yang begitu sederhana namun memiliki tanggung jawab yang besar.
Perjumpaan saat itu diawali dengan perjalanan pangeran cilik mengintari beberapa planet, hingga akhirnya ia sampai di bumi untuk mencari jawaban megapa bunga mawarnya disebut kontemporer.
Pada planet pertama, ia bertemu dengan sang Raja semesta, ialah sang penguasa semesta (Dia bukan Tuhan).
Di planet kedua, ia bertemu orang sombong, orang sombong ini sangatlah bodoh ia sangatlah bangga ketika diberi tepukan tangan dari Pangeran Kecil. Aku mengira bahwa ini adalah sindiran untuk seseorang yang hidupnya didedikasikan hanya sebatas mendapatkan sanjungan.
Di planet ketiga, ia bertemu dengan orang mabuk, orang ini juga tidak jauh konyolnya dengan orang sombong. Orang mabuk meneguk alkohol lantaran ia malu karna dirinya telah mabuk.
Pada planet keempat ada seorang pengusaha yang kerjanya hanya menghitung bintang, ia semata-semata hanya mengantongi, mengoleksi bintang hanya untuk dirinya sendiri. Mungkin ia tidak tahu, bahwa di planet lain ada Raja Semesta.
Planet kelima, ia bertemu dengan seseorang yang senang menunggui lampu di planetnya yang kecil dan sempit, ia akan menyalakan lampu itu sesuai aturan jam siang dan malam. Tingkah dia sebenarnya yang paling masuk akal dibanding ke-empat penghuni planet yang sebelumnya Pangeran Kecil temui. Tapi sungguh malang dia harus tergerus pada kondisi alam yang tiba-tiba berubah sedangkan peraturan di dalamnya tetap sama.
Lalu planet keenam, ia bertemu dengan ahli bumi, dialah yang memberitahu bahwa Pangeran Kecil haruslah melihat kondisi di Bumi, ia juga yang memberi tahu bahwa bunga mawar itu bersifat kontemporer, tidak abadi.
Hingga sampailah pada planet terakhir yang ia datangi, Bumi.
Di Bumi, iya mendapatkan sahabat yaitu seekor rubah. Rubah yang telah ia jinakkan dan menjinakkan sang Pangeran Kecil. Lalu bertemulah Pangeran Cilik itu dengan seorang pemuda yang sedang terdampar karna pesawatnya jatuh, mereka sedikit akrab. Obrolan mereka diawali dengan permintaan Pangeran Kecil untuk digambarkannya seekor domba, lalu si Pemuda membuat gambar sebuah peti yang di dalamnya ada seekor domba. Ia kaget sekaligus senang, akhirnya ada yang bisa melihat gambarnya hingga menembus sesuatu yang tak terlihat oleh matanya.
"Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata." kata sang Rubah.
Novel yang dikemas dengan gambar-gambar yang ciamik, membuat saya semangat untuk membacanya,  gambar sederhana yang dikemas dengan metafora yang ringan menjadikan ceritanya itu lebih terkesan apa adanya, seperti dongen anak-anak . Keunikan itulah yang membuat petualangan sang pemuda dan pangeran cilik sungguh berbeda. Betapa tidak. Ketika sang pemuda kecil menunjukkan gambarnya, mungkin kita pun sebagai pembaca akan menganggap bahwa gajah di dalam perut ular itu adalah sebuah topi. Sama seperti yang digambarkan oleh orang dewasa pada umumnya, tidak bisa melihat dengan hati perihal apa yang tak tampak di dalamnya. Selain visual yang dimanjakan, terkandung pula pesan-pesan moral di dalamnya dimana pentingnya melihat menggunakan hati. Sayang, novel ini terlalu tipis. Tapi dibalik ketipisannya, novel ini memiliki isi makna yang bisa kita renungkan sebagai dewasa semestinya.
Rate buku untuk kali ini aku berikan 8.5/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Friday,June 14, 2013 Mitoky :( Alive

Semu: Kopi