Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Santuyy

Aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekarang lagi gak pingin cinta cintaan ahhhhh... Aku mau share nih tulisanku wakkakkakkak padahal ini adalah tugas bimbingan konselingku waktu kelas 11 dan aku gak pernah sadar aku pernah nulis ini... Okee berhubung aku jadi semangat lagi karena tulisanku sendiri  hahahaha aku juga mau kalian para pembaca merasakan sensasi yang aku rasain ketika kalian sedang sedih atau patah semangat mungkinnya heheheheh... Okidokiii, kita langsung aja.. Untuk kamu yang hilang harap Bukan kebetulan, semua orang memang pernah merasa hidup ini tak adil. Dan jika kamu salah satu yang pernah berfikir hidup ini tak adil, eits jangan dulu patah semangat! Coba lihat orang orang sekelilingmu yang lebih tidak beruntung atau mungkin mereka menginginkan kehidupan sepertimu. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Kau boleh bersedih, tapi ingat! Kodrat kau dilahirkan di dunia ini untuk menjadi manusia yang berbahagia akan nikmat-nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadamu. ...

Donna

Donna.. Dapatkah kau tunjukkan bintang terang yang takkan padam.. Menghentikan hujan yang takkan reda.. Atau.. Menumpulkan kembali sudut bulan yang sedang cemberut? Donna.. Hingga kapan jiwa ini akan meronta, memanggil insan dengan senandung elegi Donna.. Tak cukupkah aku hancur karena delusi.. Atau.. akan binasakah aku karena ilusif? Tidak! Tidak Donna! Kau tahu aku bukanlah pengecut berparas wanita! Sekali lagi aku bertanya! Dapatkah kau tunjukkan bintang terang yang takkan padam?! Menghentikan hujan yang takkan reda! Dan menumpulkan kembali sudut bulan yang sedang cemberut?! Donna! Kali ini benar benar cukup! Aku tak bisa lagi ditawar dengan segelas anggur merah itu! Donna! Aku hilang tabah kali ini! Jawab Donna! Jawab! Senjani ,2017.

Bajingan Fiksi

Kali ini siapa yang salah? Dikurungnya aku oleh sangkar cemburu Kali ini siapa yang mengalah? Tuk bebaskan perih yang terkurung Tak ingatkah kau telah melumatku dengan aksaramu Mencumbu logika dengan janjimu Hingga payah aku sesak berdiri Kiraku rasa ini semakin rusak, tak tahu hingga kapan kan mengharap Kiraku rasa ini kan memudar, hingga perih tak lagi lahir

Yowes

Ah sudahlah.. Senja ini membuktikan,kita memang bukanlah takdir Tak melulu aku harus menahan perih hati saat rindu memang tak hadir Ah sudahlah.. Aslinya memang kau itu nyata bagi segenap makhluk di sisimu, namun bukan teruntuk diriku yang haus akan aksaramu yang membuat candu Ah sudahlah.. Nyatanya memang semesta tak pernah sepaham dengan diriku Dibungkamnya rasa yang memang nyata untukmu Ah sudahlah.. Terlalu semu untuk diceritakan lagi, bahkan hujan pun enggan tabah untuk ini Sudahlah..

ENAM BELAS

17 tahun sudah sekiranya aku hadir di semesta ini Satu dari yang menyakitkan adalah berharap pada manusia Entah itu berharap untuk di miliki Ataupun untuk diperbudak Ada rintik kala ini, bercucuran dari langit Di akhir senja pada 16 Pandangku tak lepas dari pohon yang tegak tepat depan mata Ku tilik daun tinggi di hiasi awan hitam menyelimuti Alunan indie masih terus bergetar dari pagi tadi Ada yang lucu kali ini Seketika ku berpikir cinta Ah.. itu seperti satu paket dalam kehidupanku Tanpa cinta,aku tak bergairah Tanpa cinta,aku tak mau maju Rutinitas remaja kala ini Namun pikirku patah saat ku sadar, aku telah diperbudak olehnya Di cambuk-cambuk hatiku tatkala ia melirik yang lain Di tenggelam hanyutkan aku saat rindu tak pernah memihak pada semestaku Seluruh roman mengubah hidupku Mata tak lagi sembab Hati pun tak lagi rapuh Sekarang semesta lebih berpihak pada diriku, tentu bukan pada rinduku Romanku tentangnya seolah di lenyapkan oleh kedam...

Bisik

Senja ini sudah di ganti petang Ku letakkan keningku pada bumi Ku mulai bisikan perlahan, tentang suka dalam hati Bumi,sampaikan pada Tuhanku jikalau aku cinta padanya Bumi,sampaikan pada Nabiku jikalau aku sayang padanya Bumi,sampaikan sekali lagi pada Nabiku atas terima kasih-ku Bumi,sampaikan lagi kepada Tuhanku,ku membutuhkannya Narasi ini singkat adanya Terasa khidmat nan damai Perihal mutlak kebahagiaan insan, Romantisme Tuhan dan h ambanya .

Semu: Rindu

Knock knock knock.. "Apa ada orang di dalam?" Knock knock knock. "Hm.. Masih belum menyahut juga. Semu... Kau dimana? Ah diriku lupa tak memejamkan mata." Ku pejamkan mata sembari memanggil kawan delusi ku itu. "Ada apa kau panggil aku,Senjani?" "Tak apa,aku hanya sedang rindu." "Padaku?" "Tentu bukan,pada Tuanmu" "Ah.. Ku sangka pada diriku. Apa yang bisa ku perbuat untuk rindu mu itu?" "Tolong sampaikan,aku rindu." "Begitu saja?" "Lantas apa yang harus aku lakukan lagi? Sepertinya tak ada." "Pegang jemariku. Begini Senjani,kemarin Tuhan berbisik padaku. Ia berkata hal yang tak ku mengerti. Mungkin dirimu akan paham." "Apa yang ia kata?" Ia bercerita dengan serius: "Semu,kau di takdirkan untuk hadir ke dunia senantiasa supaya kau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memiliki logika. Dan kau menjadi serangan bagi orang orang yang sangat perasa. "Aku...

Semu: Kopi

Mentari mulai tenggelam,ditelan gelap yang membungkam terang. Saat ini aku terduduk dengan kawan delusi ku. Ia bertanya,"Bagaimana rasanya berharap kepada manusia?" Aku tersenyum dan mereguk kembali kopiku. "Coba kau rasakan kopiku ini." Ia meminumnya,ekspresinya pun berubah seketika. "Tak enak,pahit begini kopimu." "Dengar baik baik,rasa dari kopi ini lebih baik dari jawaban atas pertanyaanmu itu." Ia pun terpaku. "Jika aku dilahirkan nanti,tak akan pernah aku berharap kepada manusia." Aku tertawa geli,sanubari pun berucap. "Coba saja kalau bisa."

Rindu

Kadang.. Rindu itu agresif Yang mencumbu hati tersuci Kadang.. Rindu itu munafik Yang disembunyikan rasa gengsi Kadang.. Rindu itu bak candu Yang membuat tagih para penikmatnya Tapi terkadang... Rindu itu indah Ketika hujan mencairkan kenangan (12 2016)